#pesonapangkalpinang
Mengenal Lebih Dalam Kebudayaan Kota Museum Timah
Pangkal Pinang, sebagai kota yang memiliki Museum Timah satu-satunya di Indonesia bahkan di Asia ini memiliki keragaman budaya seperti budaya lokal maupun import yang di bawa para pendatang. Hingga saat ini pun kebudayaan lokal yang menjadi unsur nelayan pun masih tetap kental yang mampu mempengaruhi perkembangan kebudayaan lokal.
Adapun dua event yang mempengaruhi kebudayaan dengan unsur nelayan adalah upacara rebo kasan dan buang jong.
Upacara Rebo Kasan
Upacara Rebo Kasan adalah upacara yang dilakukan sebagai simbol untuk menolak bala dan Rebo Kasan ini digelar untuk melestarikan adat dan budaya daerah. Masyarakat di Pangkal Pinang setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar melakukan Upacara Rebo Kasan. Acara Rebo Kasan ini untuk ritual tetap seperti biasa yang dipusatkan di masjid. Nama Rebo Kasan diambil dari kata Rebo Kasat yang berarti Rabu terakhir di bulan Shafar. Upacara Rebo Kasan sudah dilaksanakan sejak abad ke-16 dan kemudian diturunkan ke generasi berikutnya yang turun temurun dilaksanakan hingga sekarang. Tradisi Rebo Kasan merupakan tradisi yang turun temurun yang telah mengakar dalam adat dan budaya masyarakat Pangkal Pinang.
air wafa
Pelepasan ketupat lepas dan air wafa kelaut
Prosesi ritual ini diawali dengan pencelupan air wafaq (air minum yang sudah diberi doa) oleh
tokoh masyarakat sebagai simbol untuk
menghalau bencana yang akan datang. Setelah itu doa tolak bala dikumandangkan, yang dilanjutkan dengan inti
ritual yakni pencabutan ketupat lepas
yang dibuat oleh orang tertentu.
Upacara Buang Jong
buang
Jong merupakan salah satu upacara tradisional yang secara turun-temurun
dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung Pangkal Pinang. Suku Sawang
adalah suku pelaut yang dulunya, selama ratusan tahun, menetap di
lautan. Baru pada tahun 1985 suku Sawang menetap di daratan, dan hanya
melaut jika ingin mencari hasil laut.
Buang Jong dapat berarti membuang atau melepaskan perahu kecil (Jong) yang di dalamnya berisi sesajian dan ancak
(replika kerangka rumah-rumahan yang melambangkan tempat tinggal).
Tradisi Buang Jong biasanya dilakukan menjelang angin musim barat
berhembus, yakni antara bulan Agustus—November. Pada bulan-bulan
tersebut, angin dan ombak laut sangat ganas dan mengerikan.
Buang Jong dimulai dengan menggelar Berasik,
yakni prosesi menghubungi atau mengundang mahkluk halus melalui
pembacaan doa, yang dipimpin oleh pemuka adat suku Sawang. Pada saat
prosesi Berasik berlangsung, akan tampak gejala perubahan alam,
seperti angin yang bertiup kencang ataupun gelombang laut yang
tiba-tiba begitu deras.
Selain Tarian Ancak, Tari Sambang Tali
juga dijadikan salah satu rangkaian acara dalam upacara Buang Jong.
Tarian yang dimainkan oleh sekelompok pria ini, diambil dari nama burung
yang biasa menunjukkan lokasi tempat banyaknya ikan buruan bagi para
nelayan di laut. Ketika nelayan hilang arah, burung ini pula yang
menunjukkan jalan pulang menuju daratan.
Upacara Buang Jong kemudian dilanjutkan dengan ritual Numbak Duyung, yakni
mengikatkan tali pada sebuah pangkal tombak, seraya dibacakan mantra.
Mata tombak yang sudah dimantrai ini sangat tajam, hingga konon dapat
digunakan untuk membunuh ikan duyung. Karena itu pula ritual ini disebut
dengan Numbak Duyung. Ritual kemudian dilanjutkan dengan
memancing ikan di laut. Konon, jika ikan yang didapat banyak, maka orang
yang mendapat ikan tersebut tidak diperbolehkan untuk mencuci tangan di
laut.
buang jong
buang jong
bicara tentang adat istiadat Pangkalpinang ini memiliki rumah adat yang unik yang terdiri dari rumah panggung, rumah limas dan rumah rakit.
Rumah Panggung
rumah panggung ini mewarisi gaya arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubungan Limas dan juga rumah Melayu Bubung Panjang. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung dengan bahan utama kayu, rotan, bambu, daun-daun, akar pohon dan atau juga alang-alang. Rumah Panggung dari Melayu Awal ini memiliki atap yang tinggi dan sedikit miring. Rumah Panggung Bangka belitung juga memiliki beranda yang ada di depan rumah dan jumlah jendela atau bukaan yang banyak. Pada umumnya bangunan tradisional hampir selalu dijumpai berdiri dengan 9 tiang. Tiang utama bangunan terletak persis di bagian tengah rumah. Sementara itu bagian dinding lazim terbuat dari pelepah kayu, kadang juga buluh atau bambu. Uniknya, dinding ini sama sekali tidak dipermanis dengan cat dan semacamnya.
Rumah Panggung
Rumah Limas
Rumah Limas merupakan prototipe rumah tradisional dari Sumatra Selatan, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima diteras atau lantai kedua. Dengan demikian maka adat istiadat tidak akan jauh berbeda dengan suku adat Melayu di Provinsi lain, bahkan masyarakat Melayu yang berada di negara tetangga Malaysia.
rumah limas
Rumah Rakit
Rumah Rakit juga merupakan salah satu rumah adat dari Sumatera Selatan. Adanya rumah rakit di Pangkal Pinang adalah Rumah rakit yang dibuat dengan bahan utama yaitu bambu. Bambu manyan adalah jenis bambu yang digunakan sebagai pelampung rumah rakit. Selain tahan lama juga bentuknya yang besar-besar sehingga banyak dipergunakan untuk rumah rakit. Selain bambu, rumah rakit juga sebagian menggunakan balok kayu sebagai pelampung. Untuk dinding rumah digunakan papan kayu, sedangkan atap rumah rakit dibuat dari ulit yaitu semacam daun yang dianyam. Untuk menyatukan bahan-bahan rumah tersebut dipergunakan rotan. Rotan kecil digunakan untuk mengikat atap rumah sedangkan rotan yang berukuran lebih besar digunakan untuk mengikat bambu / balok yang berfungsi sebagai pelampung / rakit rumah.
rumah rakit
Sebagai bagian dari rentang dan rumpun tanah Melayu,
Pangkalpinang memiliki beragam adat istiadat dan budaya. Keanekaragaman etnis
dari berbagai nusantara membentuk budaya yang unik dan menarik, serta kesenian
tradisional yang terus berkembang pesat.
untuk mengetahuinya ini beberapa contoh wisata budaya yang ada di Pangkal Pinang :
1) nganggung
Nganggung, merupakan tradisi gotong royong masyarakat Kota Pangkalpinang dengan membawa makanan lengkap di atas dulang kuningan yang ditutup dengan tudung saji.
Nganggung, merupakan tradisi gotong royong masyarakat Kota Pangkalpinang dengan membawa makanan lengkap di atas dulang kuningan yang ditutup dengan tudung saji.
2) pawai ta'aruf
tawai Ta'aruf, adalah pawai tradisional yang diikuti semua lapisan
masyarakat dan diadakan dalam menyambut hari-hari besar Islam, yang mana
sebagian besar mayarakat melakukan pawai keliling kota dengan menggunakan baju muslim yang
beraneka ragam.
3) barongsai
Barongsai biasanya dilakukan pada saat upacara dan biasanya digelar saat bulan
purnama atau pada acara acara khusus masyarakat keturunan Tionghoa seperti
peringatan Imlek, Cap Go Meh, Sembahyang Rebut (Ghost Hungry), Sembahyang Kubur (Ceng Beng), Pot Ngin Bun, Peh Cun
dan upacara kemasyarakatan lainnya.
4) ceng beng
Ceng Beng atau sembahyang kubur merupakan upacara perwujudan dari sikap
masyarakat Tionghoa yang sangat mencintai dan menghormati leluhurnya, seluruh
keluarga baik yang ada di Pangkalpinang atau di perantauan berupaya untuk
pulang dan melaksanakan ritual.
dari 4 wisata di atas masih banyak lagi pesona-pesona Pangkal Pinang yang menarik nan indah. Kota Pangkalpinang adalah salah satu Daerah Pemerintahan Kota di Indonesia yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus merupakan ibu kota provinsi.
Tertarik dengan Pesona Pangkal Pinang? Kunjungi dan kenali kota ini sebagaimana kita mencintai Indonesia.
Cintai Indonesia Dengan Mengenal Berbagai Ragam Budaya Daerah Di Indonesia



